Membangun Pendidikan Indonesia yang Masuk Akal: perbaiki kinerja Alzaytun dari pada bermimpi menggagas 500 Titik Sekolah Berasrama.
Oleh .
Iskandar Saefullah Ketua Yayasan pesantren Indonesia – Alzaytun.
Pendahuluan.
Pendidikan adalah fondasi peradaban. Namun, fondasi yang kokoh harus dibangun di atas konsep yang realistis, berkelanjutan, dan berbasis bukti — bukan sekadar visi megah yang terlepas dari kenyataan lapangan. Di tengah hiruk-pikuk diskusi nasional tentang pendidikan menuju Indonesia Emas 2045, kita perlu menengok pengalaman dengan ikhlas dan jujur apa yang terjadi di pondok pesantren Alzaytun, yang umurnya lebih dari seperempat abad dan seharusnya sudah menjadi pembelajaran bagi pondok pesantren yang lain di Indonesia bukan saja terkait dengan fasilitas pisiknya tetapi juga pemerataan teknologi, dan inklusivitasnya.
Ditengah problema mendasar Alzaytun, pemangku pondok pesantren sama sekali tidak menaruh perhatian, melainkan menjadikannya sebagai lahan usaha pribadi dan keluarga, bahkan menjadikannya sebagai pusat kegiatan politik yang memprihatinkan. Sehingga seiring berjalannya waktu Alzaytun tidak semakin marak dan gagah, tetapi semakin mengecil dan memprihatinkan.
Mendengar pidato pemangku Pondok Pesantren Al-Zaytun Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang yang berceloteh ke sana kemari tanpa kejelasan arah dan penutup yang tegas, semakin memperkuat kesan bahwa gagasan membangun 500 titik sekolah berasrama hanyalah sebuah ludrukan — lelucon serius yang tidak lucu sama sekali . Alih-alih menyajikan konsep matang, strategi pembiayaan, dan roadmap implementasi, yang muncul hanyalah anekdot tentang semut ireng dan kutub-kutub robani. Gagasan ini terasa lebih sebagai upaya mengalihkan perhatian publik daripada solusi pendidikan nasional yang serius.
Gagasan 500 titik berasrama tersebut tampak sebagai pelarian dari kemelut internal Al-Zaytun yang tak kunjung usai. Ketika sebuah institusi besar yang pernah berdiri tegar mulai kehilangan kepercayaan masyarakat akibat berbagai persoalan manajerial, prioritas utama seharusnya adalah revitalisasi internal, bukan gagasan asbun – ambisius 500 sekolah berasrama di seluruh Indonesia.
Mengapa Gagasan 500 Titik Terasa Tidak Masuk Akal?
Pertama, biaya dan infrastruktur. Kedua, kesenjangan geografis dan digital. Ketiga, kualitas versus kuantitas. Keempat, keberlanjutan dan inklusivitas.
Jalan yang Masuk Akal: Pemberdayaan Puluhan Ribu Pesantren yang Sudah Ada.
Alih-alih membangun 500 sekolah berasrama baru yang berisiko menjadi omong kosong semata, langkah yang jauh lebih realistis dan berdampak luas adalah memberdayakan pesantren-pesantren yang sudah ada di seluruh Indonesia. Dengan jumlah puluhan ribu pesantren yang tersebar hingga ke pelosok negeri, kita memiliki modal sosial dan infrastruktur pendidikan yang luar biasa tanpa perlu membangun dari nol.
Pemberdayaan ini akan menjadikan gagasan pendidikan berasrama yang berkualitas bukan lagi mimpi kosong, melainkan gerakan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Rekomendasi Konkret:
Pilot project 50–100 titik pesantren berasrama berkualitas tinggi di provinsi prioritas selama 5–10 tahun pertama, sebagai model percontohan yang dapat direplikasi.
Integrasikan AI dan ICT secara masif di sekolah umum dan pesantren existing, sehingga manfaat teknologi pendidikan dapat dirasakan jutaan santri dan siswa tanpa menunggu ratusan gedung baru.
Perkuat kolaborasi pemerintah-swasta-yayasan untuk pembiayaan berkelanjutan, termasuk program pelatihan guru, pengembangan kurikulum terintegrasi, dan peningkatan infrastruktur digital.
Fokus revitalisasi Al-Zaytun terlebih dahulu agar kembali menjadi teladan sebelum mengajak seluruh bangsa membangun ratusan tiruannya.
Dengan pendekatan ini, kita tidak sekadar bermimpi mengejar jumlah, melainkan meningkatkan kualitas dan jangkauan pesantren yang sudah mengakar di masyarakat. Pengalaman berbagi negara maju mengajarkan kita bahwa reformasi pendidikan yang berhasil adalah yang bertahap, inklusif, dan memanfaatkan apa yang sudah dimiliki, bukan sekadar melempar angka besar yang impresif di atas kertas.
Pendidikan Indonesia butuh gagasan besar, tetapi yang jauh lebih penting adalah eksekusi yang cerdas, jujur, realistis, dan berpihak pada yang sudah ada. Mari memberdayakan puluhan ribu pesantren yang ada menjadi kekuatan utama pendidikan bangsa, bukan sibuk membangun istana di awan.
Yayasan pesantren Indonesia.
Untuk Pendidikan yang Masuk Akal, Berkelanjutan, dan Berkeadilan
Membangun Pendidikan Indonesia yang Masuk Akal: perbaiki kinerja Alzaytun dari pada bermimpi menggagas 500 Titik Sekolah Berasrama. Oleh . Iskandar SaefullahKetua Yayasan pesantren Indonesia – Alzaytun. Pendahuluan. Pendidikan adalah fondasi peradaban. Namun, fondasi yang...
Di Balik Dapur MBG: Cerita Integritas di Tengah Kekacauan Tata Kelola. oleh;Yayasan pendidikan IndonesiaSpecial consultative status in #ECOSOCUnited Nations since 2013. Sekilas program MBG. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan inisiatif besar pemerintah untuk...
Perdamaian Amerika-Iran: Kemenangan Sementara atau Jebakan Strategis Jangka Panjang?. Oleh :Yayasan pendidikan IndonesiaSpecial consultative status in ECOSOCUnited Nations since 2014. Pendahuluan. Dalam tulisan kami terdahulu, kami menyebutkan bahwa Dunia saat ini menyaksikan dengan penuh...
Penandatanganan Damai Bersejarah: Amerika Serikat dan Iran Akhiri Ketegangan, Dunia Bernapas Lega Oleh.Yayasan pendidikan IndonesiaSpecial Consultative status in ECOSOCUnited Nations since 2013. Pendahuluan. Besok, Jumat 19 Juni 2026, dunia menyaksikan momen bersejarah. Delegasi Amerika...
Setelah Penandatanganan Perjanjian Damai Amerika dengan Iran, Terdapat Sedikit Perubahan terhadap Israel. Oleh.Yayasan pendidikan IndonesiaSpecial consultative status in ECOSOCUnited Nations since 2013. Pendahuluan. Penandatanganan perjanjian damai interim antara Amerika Serikat dan Iran baru-baru ini...
Islam dan Persatuan Bangsa Indonesia: Kesadaran Umat Islam sebagai Perekat Keanekaragaman Oleh;Yayasan pendidikan IndonesiaSpecial consultative status in ECOSOCUnited Nations since 2013. Pendahuluan Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan keanekaragaman suku, adat istiadat,...
Refleksi Global – Krisis Selat Hormuz dan Karakter Kepemimpinan yang Mengancam Kemanusiaan Oleh:Yayasan pendidikan IndonesiaSpecial consultative status in ECOSOCUnited Nations since 2013. Pendahuluan. Dunia kembali diguncang oleh ketegangan di Timur Tengah. Menurut laporan Mehr...
Moratorium BGN yang Bijak – Saatnya Lindungi Integritas Program MBG dari Manipulasi. Oleh: Rudi HartonoBendahara Yayasan Pesantren Indonesia – Alzaytun. Pendahuluan. Badan Gizi Nasional (BGN) di bawah kepemimpinan Nanik S. Deyang baru-baru ini mengambil...
Kepada Yth.Pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN)Jl. Kebon Sirih No.1, RT.1/RW.7, Kb. Sirih,Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat,Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340 Dari: Iskandar SaefullahKetua Yayasan Pesantren Indonesia Tanggal: 11 Juni 2026. Perihal: Penolakan Permohonan Partisipasi...
Politisi atau Negarawan: Mana yang Kita Butuhkan untuk Masa Depan Indonesia? Oleh Yayasan Pendidikan IndonesiaSpecial consultative status in ECOSOCUnited Nations since 2013. Pendahuluan. Di tengah hiruk-pikuk pemilu dan dinamika politik nasional, satu pertanyaan mendasar...